Powered By Blogger

sepatah kata Menebar Senyum

lebih baik berbuat jahat demi kebaikan daripada berbuat baik demi kejahatan

Kamis, 08 April 2010

Jenis Jenis Erosi

Erosi ada beberapa macam menurut proses terjadinya yaitu:

1. Erosi Akibat Gaya Berat

Batuan atau sedimen yang bergerak terhadap kemiringannya merupakan proses erosi yang disebabkan oleh gaya berat massa. Ketika massa bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah maka terjadilah apa yang disebut dengan pembuangan massa. Dalam proses terjadinya erosi, pembuangan massa memiliki peranan penting karena arus air dapat memindahkan material ke tempat-tempat yang jauh lebih rendah. Proses pembungan massa terjadi terus menerus baik secara perlahan maupun secara tiba-tiba sehingga dapat menimbulkan bencana tanah longsor.Pinggir jalan yang terkena erosi akibat gaya berat.Puncak dinding Canyon di Sun Lakes State Park, Washington yang memperlihatkan longsor batuan.
2.Erosi oleh Angin

Hembusan angin kencang yang terus menerus di daerah yang tandus dapat memindahkan partikel-partikel halusBukit pasir di Namibia, Afrika batuan di daerah tersebut sehingga membentuk suatu formasi, misalnya bukit-bukit pasir di gurun atau pantai.

Efek lain dari angin adalah jika partikel keras yang terbawa dan bertumbukan dengan benda padat lainnya sehingga menimbulkan erosi yang disebut dengan abrasi. Pada gambar 6 dapat dilihat contoh erosi oleh angin yang menyebabkan terjadinya bukit pasir di Namibia, Afrika.

3. Erosi oleh Air

Pinggir pantai yang terkena erosi air laut di Southerndown, South Wales.Jika tingkat curah hujan berlebihan sedemikian rupa sehingga tanah tidak dapat menyerap air hujan maka terjadilah genangan air yang mengalir kencang. Aliran air ini sering menyebabkan terjadinya erosi yang parah karena dapat mengikis lapisan permukaan tanah yang dilewatinya, terutama pada tanah yang gundul. Pada gambar 8 dapat dilihat bahwa akibat erosi air yang terjadi di El Paso County, Colorado, Amerika Serikat.

Erosi akibat aliran air di El Paso county, Colorado, USAPada dasarnya air merupakan faktor utama penyebab erosi seperti aliran sungai yang deras. Makin cepat air yang mengalir makin cepat benda yang dapat terkikis. Pasir halus dapat bergerak dengan kecepatan 13,5 km perjam yang merupakan kecepatan erosi yang kritis. Air sungai dapat mengikis tepi sungai dengan tiga cara: pertama gaya hidrolik yang dapat memindahkan lapisan sedimen, kedua air dapat mengikis sedimen dengan menghilangkan dan melarutkan ion dan yang ketiga pertikel dalam air membentur batuan dasar dan mengikisnya. Air juga dapat mengikis pada tiga tempat yaitu sisi sungai, dasar sungai dan lereng atas sungai.

Erosi juga dapat terjadi akibat air laut. Arus dan gelombang laut termasuk pasang surut laut merupakan faktor penyebab terjadinya erosi di pinggiran laut atau pantai. Karena tenaga arus dan gelombang merupakan kekuatan yang dapat memindahkan batuan atau sedimen pantai.

4. Erosi oleh Es

Glacier di Switzerland.Erosi ini terjadi akibat perpindahan partikel-partikel batuan karena aliran es yang terjadi di pinggiran sungai. Sebenarnya es yang bergerak lebih besar tenaganya dibandingkan dengan air. Misalnya glacier yang terjadi di daerah dingin dimana air masuk ke pori-pori batuan dan kemudian air membeku menjadi es pada malam hari sehingga batuan menjadi retak dan pecah, karena sifat es yang mengembang dalam pori-pori.

Lereng pegunungan yang terjal dan mengandung tanah liat di sekitar daerah yang sudah retak-retak akan sangat rentan terhadap erosi akibat gaya berat. Erosi ini akan berlangsung sangat cepat sehingga dapat menimbulkan bencana longsor.

pengertian erosi


Erosi

Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya.

Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktek tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktek konservasi ladang dan penanaman pohon.

Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.

Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami, dan baik untuk ekosistem. Misalnya, kerikil secara berkala turun ke elevasi yang lebih rendah melalui angkutan air. erosi yang berlebih, tentunya dapat menyebabkan masalah, semisal dalam hal sedimentasi, kerusakan ekosistem dan kehilangan air secara serentak.

Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk besarnya dan intensitas hujan / presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu pula musim, kecepatan angin, frekuensi badai. faktor geologi termasuk tipe sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, kemiringn lahan. Faktor biologis termasuk tutupan vegetasi lahan,makhluk yang tinggal di lahan tersebut dan tata guna lahan ooleh manusia.

Umumnya, dengan ekosistem dan vegetasi yang sama, area dengan curah hujan tinggi, frekuensi hujan tinggi, lebih sering kena angin atau badai tentunya lebih terkena erosi. sedimen yang tinggi kandungan pasir atau silt, terletak pada area dengan kemiringan yang curam, lebih mudah tererosi, begitu pula area dengan batuan lapuk atau batuan pecah. porositas dan permeabilitas sedimen atau batuan berdampak pada kecepatan erosi, berkaitan dengan mudah tidaknya air meresap ke dalam tanah. Jika air bergerak di bawah tanah, limpasan permukaan yang terbentuk lebih sedikit, sehingga mengurangi erosi permukaan. SEdimen yang mengandung banyak lempung cenderung lebih mudah bererosi daripada pasir atau silt. Dampak sodium dalam atmosfir terhadap erodibilitas lempung juga sebaiknya diperhatikan

Faktor yang paling sering berubah-ubah adlah jumlah dan tipe tutupan lahan. pada hutan yang tak terjamah, minerla tanah dilindungi oleh lapisan humus dan lapisan organik. kedua lapisan ini melindungi tanah dengan meredam dampak tetesan hujan. lapisan-lapisan beserta serasah di dasar hutan bersifat porus dan mudah menyerap air hujan. Biasanya, hanya hujan-hujan yang lebat (kadang disertai angin ribut) saja yang akan mengakibatkan limpasan di permukaan tanah dalam hutan. bila Pepohonan dihilangkan akibat kebakaran atau penebangan, derajat peresapan air menjadi tinggi dan erosi menjadi rendah. kebakaran yang parah dapat menyebabkan peningkatan erosi secara menonjol jika diikuti denga hujan lebat. dalam hal kegiatan konstruksi atau pembangunan jalan, ketika lapisan sampah / humus dihilangkan atau dipadatkan, derajad kerentanan tanah terhadap erosi meningkat tinggi.

jalan, secara khusus memungkinkan terjadinya peningkatan derajat erosi, karena, selain menghilangkan tutupan lahan, jalan dapat secara signifikan mengubah pola drainase, apalagi jika sebuah embankment dibuat untuk menyokong jalan. Jalan yang memiliki banyak batuan dan hydrologically invisible ( dapat menangkap air secepat mungkin dari jalan, dengan meniru pola drainase alami) memiliki peluang besar untuk tidak menyebabkan pertambahan erosi.

Rabu, 07 April 2010

Penyebab atau Alasan Terjadinya Migrasi atau Perpindahan Penduduk Desa, Kota, Negara Dan Lain-Lain - Geografi

Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindaha penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.

Alasan yang menyebabkan manusia / orang pelakukan aktifitas migrasi :

1. Alasan Politik / Politis
Kondisi perpolitikan suatu daerah yang panas atau bergejolak akan membuat penduduk menjadi tidak betah atau kerasan tinggal di wilayah tersebut.

2. Alasan Sosial Kemasyarakatan
Adat-istiadat yang menjadi pedoman kebiasaan suatu daerah dapat menyebabkan seseorang harus bermigrasi ke tempat lain baik dengan paksaan maupun tidak. Seseorang yang dikucilkan dari suatu pemukiman akan dengan terpaksa melakukan kegiatan migrasi.

3. Alasan Agama atau Kepercayaan
Adanya tekanan atau paksaan dari suatu ajaran agama untuk berpindah tempat dapat menyebabkan seseorang melakukan migrasi.

4. Alasan Ekonomi
Biasanya orang miskin atau golongan bawah yang mencoba mencari peruntungan dengan melakukan migrasi ke kota. Atau bisa juga kebalikan di mana orang yang kaya pergi ke daerah untuk membangun atau berekspansi bisnis.

5. Alasan lain
Contohnya seperti alasan pendidikan, alasan tuntutan pekerjaan, alasan keluarga, alasan cinta, dan lain sebagainya.

Sejarah singkat bumi dan kehidupannya


Sejarah singkat bumi dan kehidupannya

geotimespiral.gifUntuk melengkapi pengetahuan kita bersama tentang proses evolusi yg ramai didiskusikan dibanyak tempat, juga ada yg bertanya disini. Berikut adalah sejarah singkat dari bumi serta kehidupannya. Tentunya sejarah singkat dari bumi ini diperlukan sebagai awal untuk ndongeng tentang evolusi.

Untuk soal dimensi atau satuan waktu coba bandingkan usia Homo Floresiensis (…iensis ! jangan salah tulis) yg diperkirakan hidup 18 ribu tahun lalu dengan usia bumi yang diperkirakan 4,6 Milyar tahun). Homo floresiensis ini diketemukan di Gua Liang Bua tahun 2003 Flores, Indonesia. Dan barusan diumumkan sebagai mahluk hidup yg berbeda spesies dengan manusia saat ini.

Bayangkan Homo Floresiensis (manusia kerdil di Flores) ini baru berusia 18 000 tahun, sedangkan usia bumi 4 600 000 000 000 tahun !

* Bagi yg suka mendalami science … bayangkan betapa lambatnya dan pelannya proses evolusi ini berjalan. Sebuah proses ‘ilusi waktu‘ yg tidak mudah diungkap dan diterima setiap orang begitu saja.
* Bagi yg suka agama …. Tuhan menciptakan alam ini dengan sangat lama dan berhati-hati … Jadi kita perlu menjaga !

Evolusi adalah sebuah teori ilmiah tentang perkembangan mahluk hidup. Ketika ada yg bertanya apakah berarti manusia dari kera ? Mestinya langsung ngamuk-ngamuk.

mengenal bumi lebih dekat

Mengenal Bumi Lebih Dekat

SEBAGAI masyarakat ilmiah, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berpe-ran dalam pembangunan di segala bidang yang berhubungan dengan geologi di Indonesia. Kajian-kajian ilmiah yang dikemukakan para pakar geologi telah ikut memajukan perkembangan pendayagunaan aspek geologi dalam pembangunan nasional yang notabene untuk kesejahteraan masyarakat. Bagi masyarakat umum, bisa jadi kiprah yang dilakukan IAGI tidak secara langsung dapat dirasakan manfaatnya, karena fungsi yang dijalankan IAGI adalah lebih kepada pengembangan keprofesian bidang geologi.

Geologi, apa itu?

Biasanya kata geologi sering diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tanah dan batu-batuan. Secara lebih lengkap, geologi adalah ilmu yang mempelajari Bumi dalam hal mulajadi, struktur, komposisi, sejarah perkembangannya dan proses-proses yang berlangsung di dalam dan di permukaannya, sehingga Bumi mencapai bentuknya yang sekarang.

“Benda geologi” yang paling sering diamati adalah yang sehari-hari kita sebut sebagai batu atau batuan. Melalui penyelidikan batuan yang dilakukan dengan berbagai cara dan peralatan, maka diketahuilah berbagai gejala alam, seperti gempa bumi, letusan gunung api, pembentukan mineral, minyak dan gas bumi, dan peristiwa alam lainnya.

Sederhananya, Bumi selain menyimpan kandungan sumber daya alam, Bumi pun memiliki potensi kebencanaan. Begitu pula Kepulauan Indonesia yang terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu adalah wilayah yang secara geologis selain menyimpan berbagai sumber daya mi-neral dan energi juga merupakan wilayah yang berpotensi sekaligus rawan bencana, antara lain gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir dan tanah longsor.

Banjir dan tanah longsor

Di antara bentuk bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia adalah banjir dan tanah longsor. Peristiwa banjir dan tanah longsor, apakah murni sebagai fenomena alam atau karena ada campur tangan manusia, memang bisa menjadi perdebatan panjang. Banjir dan tanah longsor adalah persoalan yang selalu membuntuti kita sepanjang tahun, khususnya pada satu dekade terakhir ini. Di musim hujan, banyak daerah di Indonesia yang dilanda banjir dan tanah longsor, sebaliknya di musim ke-ring banyak orang berteriak kekurangan air.

Menurut Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP), bencana alam yang berkaitan dengan kebumian pada periode 1998 hingga Mei 2004 telah merenggut korban jiwa sebanyak 2232 orang. Dari jumlah korban tersebut yang paling banyak adalah akibat bencana banjir (1.117 orang) dengan jumlah kejadian sebanyak 379 kali. Korban berikutnya adalah akibat dari bencana tanah longsor (765 orang; 288 kejadian).

Sedangkan korban akibat bencana gempa bumi mencapai 350 orang dengan 52 kali kejadian, serta dari bencana gunung api adalah dua orang di antara 17 kali kejadian. Sementara itu, penanggulangan bencana di Indonesia lebih banyak pada upaya tanggap darurat di setiap kejadian pascabencana. Menyadari hal ini, sudah sewajarnya masyarakat memperoleh pengetahuan tentang fenomena alam yang dapat menimbulkan bencana itu, sebagai upaya mengantisipasi bencana.

Mengenal lebih dekat

Menyimak bencana alam akibat kejadian banjir dan tanah longsor, atau bencana alam lainnya, kita patut berpikir, mengapa muncul bencana alam? Bagaimana sesungguhnya fenomena alam itu terjadi? Dengan mencoba mengenal Bumi lebih dekat, kita akan melihat Bumi selain mengandung bahan-bahan sumber daya mineral dan energi yang kita butuhkan, Bumi pun harus dicermati karena ia menyimpan potensi kebencanaan. Dan sudah selayaknya masyarakat umum termasuk anak-anak diperkenalkan dengan pengetahuan dasar ilmu kebumian.

Sebagai contoh, untuk lebih mengembangkan kreativitas anak-anak, kita dapat mengajaknya melakukan percobaan tentang peristiwa erosi tanah. Material yang dibutuhkan adalah sebuah kaleng biskuit yang dipotong diagonal menjadi dua bagian dan ke dalam rongganya diisi tanah hingga membentuk lereng. Salah satu lereng itu kita tanami dengan rumput. Setelah rumput tumbuh subur kemudian lakukan percobaan berikut ini. Hujani kedua lereng itu dengan air mancur dari air yang diisi pada kaleng susu yang dilubangi.

Apa yang terjadi? Lereng yang mana yang mudah tererosi? Lumpur dan air pada lereng yang mana yang mudah menggelontor ke bawah? Silakan anak-anak memperoleh kesempatan untuk mengamati dan menyimpulkannya. Dengan melakukan percobaan semacam ini, diharapkan anak-anak dapat meresapinya, bagaimana peristiwa erosi terjadi, terutama pada kejadian sesungguhnya di alam.

Berbagai kegiatan yang pada intinya mengenal bumi lebih dekat, baik yang berhubungan dengan geologi maupun ilmu hayati, bukan tidak ada yang melakukannya. Lihat saja misalnya, aktivitas sekolah yang berorientasi ke alam (Sekolah Alam), kegiatan ecoschool yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa di ITB bagi siswa SMP, klub Bicons (Bird Conservation Society) Mahasiswa Biologi Unpad, pendidikan tentang Gunung Merapi oleh Pusat Studi Bencana UPN-Veteran Yogyakarta bagi masyarakat sekitar Gunung Merapi, dan yang lainnya, termasuk kegiatan sosialisasi geologi yang dilaksanakan IAGI.

Di mana mengamatinya?

Kita juga dapat mengamati Bumi di hotel, di mal, di gedung-gedung pertokoan atau di gedung perkantoran. Lho, kok? Benar. kita dapat mempelajari tekstur dan mineral penyusun batuan granit pada permukaan dinding atau lantai gra-nit di sebuah hotel atau mal yang berkaitan dengan geologi. Dari tekstur dan susunan mine-ral itulah dapat diketahui, bagaimana batuan itu terbentuk. Kita juga bisa mengamati fosil foraminifera, koral atau algae pada batu gam-ping yang ditempel di dinding dan lantai gedung pertokoan, gedung perkantoran atau rumah sendiri. Kita dapat mengetahui tentang lingkungan laut di mana batuan itu terbentuk dahulu kala berdasarkan fosil-fosil itu.

Untuk mengamati Bumi secara lebih lengkap dan sistematik, kita bisa mengunjungi Museum Geologi di Bandung. Di museum ini kita dapat belajar mengenali kehidupan prasejarah, proses gunung api, cara terbentuknya mineral, minyak bumi, juga benda dan peralatan yang kita pakai sehari-hari, yang tidak pernah dikira barang-barang itu berasal dari bahan dan mineral dari perut Bumi. Kita dapat pula mengajak anak-anak mengamati Bumi secara langsung di alam, atau seraya berekreasi ke tempat-tempat wisata alam seperti Gunung Merapi, Gunung Tangkuban Perahu, tempat wisata air panas Ciater, dan di tempat yang lain.

Untuk mengenal Bumi dapat dimulai dengan mengenal batuan, dan itu bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Salah satu tempat menyaksikan bermacam batuan bermunculan isi perut Bumi ke permukaan adalah daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Di sana anak-anak dapat menikmati mengumpulkan kerikil berbagai macam batuan pembentuk Bumi yang berserakan di Sungai Luk Ulo, atau bahkan mereka bisa menjejakkan kaki di atas batuan lantai samudra purba.

Peran IAGI

Tujuan dari memperkenalkan Bumi lebih dekat kepada masyarakat umum adalah memberi pemahaman. Bumi selain sebagai tempat memperoleh sumber daya alam untuk kehidupan, Bumi pun bisa memunculkan bencana. Selain itu, eksploitasi sumber daya alam tanpa didukung dengan kaidah-kaidah pengelolaan berkelanjutan dan kelestarian alam hanya akan merusak keseimbangan tatanan alam.

Pentingnya menjaga kelestarian Bumi dalam skala regional dapat dimulai dengan tindakan memahami lingkungan yang menyentuh persoalan-persoalan dari skala lokal, yaitu dari skala hunian manusia. Khusus kepada anak-anak, pengenalan ini dinilai tepat sasaran, karena pemahaman tentang alam sejak usia dini diprediksi akan lebih memberi ingatan tentang alam yang akan melekat hingga mereka besar nanti.

IAGI sebagai salah satu asosiasi profesi bidang kebumian memiliki peran besar untuk menyebarluaskan keahliannya kepada masyarakat umum. Agar kiprah IAGI terasa lebih membumi, IAGI perlu meningkatkan porsi kegiatan sosialisasi geologi dalam dua arah. Kepada pemerintah, IAGI bisa mengusulkan tentang materi-materi ilmu kebumian ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Sementara bagi masyarakat umum, IAGI melalui anggota-anggotanya dapat turun langsung atau melalui media masa secara simultan dan terprogram menyosialisasikan geologi.

Kita semua tentu berharap agar tidak terjadi kesenjangan antara (meriahnya) aktivitas IAGI dengan (dinginnya) pemahaman masyarakat Indonesia akan peran IAGI dan arti penting geologi untuk kehidupan

Senin, 22 Maret 2010

puisi

Grafitasi

Bias cakrawala
Indah nian terangi maya pada
Penuh mesteri dari sang illahi
Langit yang membiru
Alam tersenyum manis
Sambut sinar sang mantari
Angin tiupkan kidung cinta
Buat alam semesta

Tapi…….
Manusia hanya bisa berkata cinta
Tak banyak yang mengerti
Makna dari sebuanh cinta
Hingga cemari udara
Dengan berbagai limbah dunia
Andai sedikit saja meraka sadar
Betapa indahnya dunia dengan cinta
Tak akan ada perang
Tak akan ada bencana
Grafitasi bumipun tak akan seburuk ini
Dunia kan damai
Alamku kan selalu indah berseri

From: “TRI ULAN TAIPEI CITY”
Monday, April 20, 2009 9:58 AM

Minggu, 24 Januari 2010

Arogan

Dosen Arogan
Bersikap sebagai seorang dosen memang bukan perkara gampang. Bila terlalu akrab dan “lunak” kepada mahasiswa bisa membuat ngelunjak. Sebaliknya, terlalu kaku pun bakal menimbulkan jarak. Berikut ini adalah kisah seorang dosen yang masih baru di sebuah universitas ternama. Saat itu sang dosen sedang menghadiri sebuah acara gawean mahasiswa di kampusnya.
Dosen muda itu tiba di ruang acara dan langsung mengambil tempat duduk di barisan depan, di posisi yang diperuntukkan bagi para dosen. Perasaan berbeda sebagai seorang guru di antara para murid membuatnya memperlihatkan sikap yang jumawa. Tiba-tiba mahasiswa yang menjadi salah seorang panitia menegurnya.
“Maaf, Mas! Mohon jangan duduk di sini. Barisan ini hanya untuk dosen.”
Sang dosen meradang. Harga dirinya tercabik-cabik. Kebesarannya sebagai seorang dosen, walaupun masih baru dan belum banyak dikenal, sangat terluka. Dengan berang dia menghardik, “Hei, kamu tahu siapa saya?!”
Sang mahasiswa mengkeret mendengar berangnya. “Ti... tidak tahu, Mas.”
“Saya dosen di sini!!”
Tanpa disangka-sangka sang mahasiswa balas menantang, “Eh, Mas tahu siapa saya?”
Mendapati tantangan seberani itu, sang dosen justru balik mengkeret. Anak ini pasti somebody, pikirnya. “Nggak...” dosen muda menggeleng takut-takut.
Sang mahasiswa menghembuskan napas lega, “Oh, syukurlah...” katanya lirih.***
Wakakakak! Hidih! Jangan serius-serius amat atuh membacanya! Ini mah tulisan iseng kalau Marshmallow lagi bete, tapi nggak punya ide bagus buat nulis dan kerjaan numpuk bikin mumet.